Awalnya memang tidak tertarik untuk membaca buku ini, namun lambat laun buku ini layak untuk dibaca apalagi jika timing perasaan galau menggeluti hati (hehehe)

Buku ini menceritakan sebuah perjalanan, perjalanan yang penuh dengan pertanyaan, namun dikemas dengan sangat apik sehingga membuat kita sebagai pembaca termanggut-manggut dengan gaya penulisannya.

Buku ini menceritakan tentang sebuah perjalanan dari makasar ke tanah suci  yang menggunakan kapal sebagai alat transportasinya adalah bukan waktu yang singkat. Diawali dengan Bonda upe berparas cantik, keluarga Andipati yang kaya raya, kemesraan dari Mbah kakung dan Mbah putri, juga Ambo uleng kelasi dapur yang pendiam, hingga guru besar Gurutta yang dihormati, yang masing-masing tokoh mempunyai karakter yang berbeda-beda.

Singkat cerita, ada 5 pertanyaan yang dijawab dengan penjabaran yang membuat kita bercermin saat kita membacanya. dimulai dari (1)  Bonda upe yang mempunyai paras cantik, yang menjadi guru mengaji dalam perjalanan ke tanah suci yang ternyata pernah dijadikan taruhan ayahnya saat judi sampai menjadi wanita penghibur adalah kisah hidup yang sangat memilukan, upe masih terjebak dalam masa lalunya, masa lalu yang begitu pedih hingga dia ingin sekali melupakannya, namun sayangnya semakin upe melupakan semakin jelas ingatan itu dipikiran upe. Lalu (2) Andipati yang kaya raya dengan keluarga nya yang harmonis cukup membuat orang lain iri dengan kepunyaannya sekarang, namun dalam cerita tersebut, Andipati mempunyai masa lalu yang kelam dengan ayahnya yang tidak banyak diketahui orang, dia membenci ayahnya yang mempunyai anak buah tukang pukul untuk menagih hutang hingga ayahnya yang ringan tangan kepada ibunya. Andipati membenci ayahnya hingga ia mati, hingga ia bertemu si jagal gori  yang hampir membunuhnya dalam perjalanan ke tanah suci, andipati masih tetap membenci ayahnya sampai gurutta memberikan jawaban atas pertanyaannya. Begitu juga (3) Mbah kakung dan Mbah putri yang menjadi pasangan termesra di kapal itu, yang selalu menjadi pemanis cerita, tidak disangka dalam perjalanannya ke tanah suci, orang yang selalu menerima pemberian romantis dari mbah kakung justru meninggalkan mbah kakung dalam perjalanan. Iya, kepergian mbah putri membuat mbah kakung terasa pilu dalam setiap langkahnya, ditambah lagi dengan janji melihat masjidil haram dengan bergandengan tangan lalu keinginan mereka dimakamkan di tanah yang bersebelahan, tapi tidak disangka jasad mbah putri ditenggelamkan ke laut karena mbah putri yang meninggal secara mendadak disaat kapal masih berlaju di laut lepas. Berbicara tentang cinta sejati juga dirasakan (4) Ambo uleng, kelasi dapur yang ingin melarikan diri melalui kapal haji karena cinta sejatinya telah dijodohkan dengan seseorang yang menjadi pilihan ayahnya. Keempat pertanyaan itu dijawab oleh gurutta dengan rapi dan selalu menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Namun siapa disangka disaat semua pertanyaan yang ditanyakan kepada gurutta selalu dijawab tanpa ada keraguan, (5) gurutta ternyata mempunyai pertanyaan tentang dirinya sendiri, ketakutan yang selama itu membuat ia resah dijawab oleh seseorang yang mempunyai ilmu agama yang dangkal dan baru saja belajar agama.

Jawaban dari semua pertanyaan masing-masing tokoh tersebut mampu membuat kita berfikir lebih luas dan rasional, namun masih dalam aturan agama.

“jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar.”- (chapter 47;493)

Advertisements